Bisnis Online Terhemat

 

pasang iklan

Tampilkan postingan dengan label Agama dan Instropeksi Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama dan Instropeksi Diri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Januari 2013

Metode Pengobatan dan Hukumnya


Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan penyakit, Dia pun menurunkan obat bersama penyakit itu. Obat itupun menjadi rahmat dan keutamaan dari-Nya untuk hamba-hamba-Nya, baik yang mukmin maupun yang kafir.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَل لَهُ شِفَاءً
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5678)

Pengobatan Islami


Pengobatan secara islami atau yang sekarang lebih banyak dikenal dengan pengobatan Thibbun Nabawi merupakan salah satu metode pengobatan berdasarkan ajaran Rasulullah SAW. Perlu diketahui bahwa bagi seorang mukmin seharusnya pengobatan dengan metode ini bukan merupakan pengobatan alternatif/second line, namun merupakan jenis pengobatan yang pertama kali dilakukan ketika seorang mukmin menderita sakit. Dalam metode pengobatan Thibbun Nabawi terdapat beberapa jenis tindakan yang dapat dilakukan. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الشِّفَاءُ فِي ثَلاَثٍ: شُرْبَةِ عَسَلٍ، وَشَرْطَةِ مِحْجَمٍ، وَكَيَّةِ نَارٍ، وَأَنْهَى أُمَّتِي عَنِ الْكَيِّ
“Obat/kesembuhan itu (antara lain) dalam tiga (cara pengobatan): minum madu, berbekam dan dengan sundutan api, namun aku melarang umatku berobat dengan sundutan api.”11 (HR. Al-Bukhari no. 5680)
Tidak sebatas madu dan bekam saja yang diajarkan oleh Rasul, tapi juga terdapat beberapa tindakan lain seperti yang akan dijelaskan di bawah ini.

- Bekam
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengabarkan:
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ احْتَجَمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ فِي رَأْسِهِ مِنْ شَقِيْقَةٍ كَانَتْ بِهِ
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbekam pada bagian kepalanya dalam keadaan beliau sebagai muhrim (orang yang berihram) karena sakit pada sebagian kepalanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5701)
Pada intinya metode mengeluarkan darah kotor yang terakumulasi pada beberapa tempat di tubuh. Dengan keluarnya darah tersebut, maka tubuh akan menjadi lebih segar dan bersemangat, sekaligus hal tersebut akan meringankan kerja organ tubuh yang mengurus pembersihan darah seperti ginjal.

- Madu
Dalam banyak penelitian ilmiah, madu telah terbukti mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit dengan mekanisme kerja utamanya meningkatkan system imunitas tubuh. Manis pada madu mengandung fruktosa yang dalam tubuh tidak dimetabolisme menjadi glukosa sehingga cenderung tidak meningkatkan kadar gula darah (aman untuk orang dengan gula darah tinggi atau terkena diabetes mellitus)
Allah Subhanahu wa Ta’ala Berfirman:
يَخْرُجُ مِنْ بُطُوْنِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيْهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ
“Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (An-Nahl: 69)

- Jinten Hitam
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ هَذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ مِنَ السَّامِ. قُلْتُ: وَمَا السَّامُ؟ قَالَ: الْمَوْتُ
“Sesungguhnya habbah sauda` ini merupakan obat dari semua penyakit, kecuali dari penyakit as-samu”. Aku (yakni`Aisyah radhiallahu ‘anha) bertanya: “Apakah as-samu itu?” Beliau menjawab: “Kematian.” (HR. Al-Bukhari no. 5687 dan Muslim no. 5727)

Seperti hal sabda Nabi Muhammad di atas, Jinten hitam merupakan obat dari semua penyakit. Hal ini terbukti dengan telah banyaknya jurnal-jurnal penelitian ilmiah yang telah beredar di bidang kesehatan. Jinten hitam atau dalam arabnya disebut Habbatus Sauda diteliti memiliki kandungan utama Timokuinon dan terbukti memiliki khasiat antiinflamasi, antimikroba, antikanker, analgesik, antihipertensi, dan lain sebagainya.

- Ruqyah
Di antara cara pengobatan nabawi yang bermanfaat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah ruqyah yang syar’i, yang ditetapkan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih. Ketahuilah, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan Al-Qur`anul Karim sebagai syifa` (obat/ penyembuh) sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلاَ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ءَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ
“Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur`an itu suatu bacaan dalam selain bahasa Arab tentulah mereka mengatakan: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?’ Apakah (patut Al-Qur`an) dalam bahasa asing, sedangkan (rasul adalah orang) Arab? Katakanlah: ‘Al-Qur`an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an apa yang merupakan syifa` dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata ketika memberikan komentar terhadap hadits yang menyebutkan tentang wanita yang menderita ayan (epilepsi): “

Dalam hadits ini ada dalil bahwa pengobatan seluruh penyakit dengan doa dan bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lebih manjur serta lebih bermanfaat daripada dengan obat-obatan. Pengaruh dan khasiatnya bagi tubuh pun lebih besar daripada pengaruh obat-obatan jasmani.Namun kemanjurannya hanyalah didapatkan dengan dua perkara:

Pertama: Dari sisi orang yang menderita sakit, yaitu lurus niat/tujuannya.
Kedua: Dari sisi orang yang mengobati, yaitu kekuatan bimbingan/arahan dan kekuatan hatinya dengan takwa dan tawakkal.

Pengobatan dengan Metode Lain

- Air seni Manusia atau Hewan


Memang di beberapa tempat di dunia ini dijumpai adanya kebiasaan dari masyarakat setempat yang memanfaatkan air kencing manusia untuk pengobatan terhadap suatu penyakit. Di India misalnya urine telah dianggap sebagai obat universal selama lebih dari 5.000 tahun. Di Eropa yang lebih dikenal dengan istilah ‘terapi urine‘.
Dalam Islam, air seni baik berasal dari manusia ataupun hewan merupakan sesuatu yang najis dan perlu disucikan setiap waktu khususnya bila ingin melakukan ibadah. Secara logika, bila sesuatu yang najis terkena pada bagian luar tubuh maka hal tersebut dapat disucikan dengan bilasan air atau berwudhu. Namun apabila sesuatu yang najis itu masuk ke dalam tubuh dari luar maka otomatis hal tersebut tidak dapat dengan mudah untuk disucikan dan menghalangi orang untuk suci dan melakukan ibadah.
Dengan demikian air kencing manusia tidak boleh digunakan untuk pengobatan suatu penyakit baik dengan cara diminum atau dioleskan kecuali pernyataan dokter muslim yang bisa dipercaya atau ketika tidak ada lagi obat yang suci yang bisa dipakai untuk mengobati penyakit tersebut, sebagaimana disebutkan oleh al ‘Izz Abdus Salam,”Diperbolehkan pengobatan dengan menggunakan sesuatu yang najis apabila tidak ada lagi obat yang suci untuk mengobatinya. Hal itu dikarenakan kemaslahatan kesehatan dan keselamatan lebih diutamakan daripada kemaslahatan menjauhi sesuatu yang diharamkan.” (al Fiqhul Islami wa Adillatuhu juz IV hal 2610)

- Khamar

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim dari Thariq bin Suweid ia berkata:

"Saya bertanya kepada Rasulullah Shallahu 'Alaihi Wassalam tentang khamar yang digunakan sebagai obat. Beliau menjawab:
"Tidak boleh, karena khamar itu adalah penyakit."
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mengabarkan bahwa khamar itu penyakit bukan obat. Hadits menunjukkan bahwa khamar adalah penyakit. Para ahli medis juga sepakat bahwa khamar hanya menimbulkan mudharat. Bahkan para orientalis telah menulis beberapa buku tentang masalah ini. Mereka berkata: "Struktur tubuh peminum khamar pada usia empat puluhan sama seperti struktur tubuh manusia usia enam puluhan. Perlu diketahui, hasil rapat Komisi Fatwa MUI tahun 2001 menyimpulkan bahwa minuman keras adalah minuman yang mengandung alcohol (khamar) minimal 1 % (satu persen).
Rasulullah bersabda :
“Setiap barang yang memabukkan dinamakan khamar, dan setiap khamar itu haram hukumnya” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

- Dukun santet

Dan telah sahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam hadits-hadits yang melarang untuk datang kepada dukun, peramal serta tukang sihir serta larangan untuk bertanya dan membenarkan mereka. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا نَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barangsiapa yang mendatangi kahin (dukun) dan membenarkan apa yang ia katakan, sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.”
Barangsiapa yang melakukan perkara tersebut dalam mengobati, ini menunjukkan bahwa dia meminta bantuan jin dan mengaku-aku tahu tentang ilmu gaib. Maka tidak boleh berobat kepada mereka, dan tidak poleh pula mendatangi serta bertanya kepada mereka, karena sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang hukuman kepada manusia semacam mereka:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةُ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا
‘Barangsiapa mendatangi ‘arraaf’ (tukang ramal)) kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari.” (HR. Muslim dalam sahihnya)

Pada intinya ada dua jenis hukum berobat kepada dukun, yang pertama “haram” ketika dukun tersebut mengaku mengetahui yang gaib dan menggunakan mantra-mantra dalam pengobatan. Hal tersebut disebabkan sang dukun meminta bantuan jin dalam metodenya dan hal ini akan menjerumuskan pelaku pengobatan ke arah syirik besar yang sangat dimurkai oleh Allah SWT. Yang kedua menjadi “boleh” ketika dukun tersebut tidak mengaku mengetahui yang gaib dan hanya menggunakan ramuan tanaman tradisional sebagai metode pengobatannya. Hal tersebut tetap harus didasari keyakinan bahwa metode itu hanyalah perantara penyembuhan saja, karena hanya Allah jua yang dapat memberikan kesembuhan.

- Jimat/ Batu Bertuah/ Keris (Benda yang diyakini memiliki kekuatan)

Realita sekarang ini banyak kita temukan di lapangan kehidupan. Lihatlah sebagian orang menggunakan “batu bertuah”, “keris sakti”, “Sabuk Bertuah”, “Permata Pelaris Dagangan”,“Rompi Penarik Hati”, “Kopiah Penolak Bala”, “Permata Pelaris Bisnis”, “Tanduk Kucing Penyebab Kekebalan”, “Tanduk Babi”, “Rotan Pembawa Rejeki”, dan lainnya. Semua barang-barang ini diyakini oleh sebagian orang jahil sebagian penyebab tertolaknya bala’ (petaka), dan penyebab datangnya kebahagiaan berupa rejeki, kesehatan, jodoh, kesembuhan dan lainnya. Ini adalah keyakinan jahiliah yang telah dihapus oleh Allah dengan kedatangan Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa sallam- membawa Islam yang menghapus segala bentuk paganisme, dan penyembahan kepada selain Allah beserta sebab-sebabnya.
Allah -Ta’ala- berfirman,

قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
“Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah. Jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri”.(QS. Az-Zumar : 38).

Keyakinan yang masih menjamur dalam masyarakat tentang keampuhan “benda-benda sakti” yang dapat menyembuhkan itu merupakan suatu sarana menuju kesyirikan. Contoh yang kemarin hangat diberitakan di televisi adalah batu bertuah Ponari. Mempercayai sesuatu kesembuhan itu datangnya dari jimat dan benda-benda lain hukumnya haram karena kesembuhan yang sebetulnya hanya datang dari Allah SWT.

- Pengobatan dengan Transfer Penyakit ke Hewan
Pengobatan alternatif dengan cara memindahkan penyakit ke binatang kambing belakangan oleh sebagian kalangan ramai dipersoalkan keabsahannya. Sejumlah data yang dikumpulkan dari media massa online (internet), paling banyak mengecam pengobatan cukup aneh ini adalah kalangan agamis yang berpegang teguh pada ajaran Islam. Bahkan, pengobatan tak lazim ini dinyatakan haram karena tidak bisa dibenarkan dan hanya menyakiti binatang.

Penyembuhan penyakit ke binatang belakangan menjadi sorotan, menyusul hasil Sidang Dewan Hisbah di Pesantren Persis Lembang, Jawa Barat, belum lama ini, yang peserta memperoleh pengarahan dari Ketua Dewan Hisbah, K.H. Akhyar Syuhada dan sejumlah pakar yang membahas persoalan tersebut yakni Dr. H.M. Abdurrahman, M.A (Sekretaris Dewan Hisbah), Drs. K.H. Shiddiq Amien, M.B.A., Drs. K.H. Uus M. Ruhiat, K.H. Usman Shalehuddin, dll.Sidang Dewan Hisbah VII Persis mengeluarkan fatwa yang diantaranya, menyatakan cara penyembuhan dengan memindahkan penyakit kepada binatang atau makhluk lain adalah mustahil dan yang mempercayainya adalah syirik.

Larangan tersebut juga berdasarkan hadits-hadits Nabi. Salah satunya, menyebutkan,
“Janganlah kalian menjadikan makhluk yang bernyawa sebagai sasaran.” (HR Muslim no 1957).
Imam Nawawi menegaskan, “Larangan dalam hadits ini sampai tingkatan haram. Untuk itulah Nabi SAW dalam riwayat Ibnu Umar bersabda, “Allah melaknat orang yang melakukan ini, karena ini adalah penyiksaan terhadap binatang.” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim 13/108).

- Obat Kimia Sintetik
Sampai saat ini status pengobatan dengan obat kimia sintetik masih belum diperoleh status yang pasti kehalalan maupun keharamannya khususnya bagi obat-obat yang mengalami proses formulasi dahulu sebelum menjadi bentuk sediaan. Namun MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah sedikit memperjelas beberapa obat yang kehalalannya diragukan , juga obat kimia yang ditambah eksipien yang tidak halal secara pasti ataupun tidak halal karena konsentrasi yang tinggi.


Contohnya obat-obat dengan alkohol lebih dari 1%, obat-obat kulit yang mengandung plasenta, Insulin yang beredar di pasaran diekstraksi dari pankreas babi dan sapi (juga proses penyembelihan sapi yang tidak diketahui halal haramnya), vaksin polio → sel vero dari ginjal kera →dilepaskan dari mikrokarier memakai enzim tripsin yang berasal dari babi, cangkang kapsul yang terbuat dari gelatin babi, dan lain-lain.
Dalam Firman-Nya dikatakan :

“ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan..” (QS. 5:3)

Sudah jelas bahwa selama pengobatan dengan benda atau bahan yang halal, suci lagi baik itu masih bisa digunakan maka berobat dengan menggunakan benda atau bahan yang haram, najis, dan kotor itu adalah haram hukumnya. Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Utsman,
"Bahwasanya seorang dokter pernah menanyakan kepada Rasulullah saw. tentang hukum katak yang dijadikan obat, maka beliau melarang dokter itu membunuh katak," (Shihih, HR Abu dawud [387]).
Untuk menghindari hal-hal yang membuat kita mengkonsumsi obat yang haram maka bertanyalah dahulu kepada ahlinya, searching di internet , gunakan pengobatan Islami yang sudah pasti kehalalannya, atau dapat digunakan produk-produk yang memiliki logo halal dari MUI.

Daftar Pustaka
Al Qur’an dan Al Hadist
http://attuqa.blogspot.com/2011/07/teknik-pengobatan-islam-dari-hadits.html
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/halalkah-pengobatan-menggunakan-air-seni-kencing.htm#.UL4Z8pFeRa8
http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/detil_page/11/375/30/
http://islamqa.info/id/ref/8795
http://www.susukolostrum.com/info-sehat/info-sehat/menggugat-bahan-haram-dalam-obat.html
http://ulamasunnah.wordpress.com/2009/02/11/hukum-berobat-kepada-dukun/
http://kaahil.wordpress.com/tag/hukum-jimat/
http://metafisis.wordpress.com/2010/06/07/kesesatan-dan-penipuan-transfer-penyakit-ke-hewan/

Selasa, 17 Juli 2012

Rasulullah Berlindung Dari Kemalasan


Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan dalam firman-Nya, Maka berlomba-lombalah kamu (dalam membuat) kebaikan (Q.s. al-Baqarah/2: 148) Dengan demikian, jelaslah bahwa tugas seorang Muslim di dunia ini ialah memperbekali diri dengan amal shaleh sebanyak-banyaknya, berusaha menjadi orang yang pertama dan paling gesit dalam setiap amal shaleh layaknya Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan merindukan beramal shaleh pada setiap saat dan di setiap tempat. Hanya saja, seorang Muslim tidak selalu mulus dalam menjalankan amal di setiap harinya. Ada saja aral melintang yang menjadi penghalang pelaksanaannya. Terkadang, halangan itu justru muncul dari dalam dirinya yang bernama sifat malas. Al-kasal (malas) didefinisikan al-Munâwi rahimahullah dengan melalaikan hal-hal yang tidak sepantasnya dilupakan. Oleh karena itu, terhitung sebagai karakter yang tercela. Ar-Râghib rahimahullah menambahkan, akibat dari malas ini, orang akan masuk ke dalam jajaran orang-orang yang sudah mati. Oleh karena itu, penyakit hati ini tidak boleh dikesampingkan bahayanya. Apalagi penyebutan sifat ini dua kali dalam al-Qur`ân hanya menyangkut kaum munâfiqîn. Bila dibiarkan berjangkit, seiring dengan perjalanan waktu, akan mengakar pada jiwa seseorang. Jadilah ia seorang pemalas, yang enggan menyibukkan diri dengan ibadah (urusan akherat) dan pekerjaan (urusan duniawi), meskipun ia mengetahui akan menuai kerugian yang nyata kelak. Di saat kebanyakan orang semangat beramal shaleh pada musim-musim kebaikan, ia hanya duduk berdiam diri menghabiskan waktu dalam tidur, omongan nglantur ataupun lamunan panjang yang tak terukur. Demikianlah, seorang pemalas sebenarnya sanggup beraktifitas, akan tetapi tidak melakukannya sebab tiadanya keinginan pada hati orang tersebut. Hak-hak orang pun akan terbengkalai. Untuk menangkal penyakit hati yang bisa memandulkan potensi kebaikan pada diri seseorang, Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa kepada umat demi keselamatan dari sifat tercela tersebut. Doa yang berisi permohonan kepada Allâh k agar berkenan memberikan perlindungan dari sifat malas. أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْهَرَم Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketidakberdayaan, malas, pengecut dan pikun (HR. Muslim no. 2706) Barang siapa terbiasa malas, maka akan kehilangan kesempatan untuk istirahat. Padahal Allâh Subhanahu wa Ta’ala telah membekali dirinya kekuatan untuk bergerak dan beraktifitas agar potensi tenaga dan kekuatan tersebut bisa dipergunakan dengan semestinya. Apabila tidak dimanfaatkan, maka keberadaan kekuatan pada seorang pemalas menjadi mandul lagi tidak berguna, sebagaimana bila tidak dipergunakan untuk berpikir akan mengalami kebekuan dan tumpul. Wallâhu a’lam

Sabtu, 21 Januari 2012

Bila Buah Hati Anda Takut Hantu

Hati orang tua mana yang tidak kecewa, bila si buah hati menjadi anak yang penakut. Kalau ketakutan si anak masih dalam batas wajar, misalnya takut terhadap binatang yang lebih besar badannya dari dirinya, atau takut terhadap binatang yang menjijikkan, terhadap orang-orang asing yang belum dikenalnya; semua itu tidaklah menjadi masalah besar dalam pendidikan pribadi anak. Tetapi takut terhadap kegelapan dan takut hantu, hal ini bisa berakibat fatal bagi pembentukan pribadi anak, bila tidak ditangani sedini mungkin. Bukankah kita menginginkan agar anak-anak menjadi manusia mukmin dan mukminah yang kuat imannya, mampu mengemban amanah ubudiyyah lillahi wahdah (beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata) dengan tauhid dan tidak takut kepada siapapun, kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata serta tidak takut celaan manusia?

Marilah kita cermati, mengapa anak-anak menjadi takut hantu dan bagaimana dampak negatifnya. Pada dasarnya, anak terlahir dengan tidak mempunyai rasa takut terhadap segala sesuatu. Setelah dia tumbuh seiring dengan perkembangannya mengenal lingkungan, bertambahlah pengalamannya. Ada yang takut berjalan karena pernah jatuh. Ada yang takut naik becak, karena pernah melihat becak terguling bersama tukang becak dan penumpangnya. Demikian pula anak yang takut hantu. Dia menjadi takut hantu karena mendapat informasi tentang hantu, baik dari temannya, kerabatnya, orang tuanya sendiri atau informasi lainnya.

Dewasa ini berbagai media informasi, semisal televisi, radio, buku bacaan, VCD dan yang lainnya, marak dengan cerita-cerita misteri dan seram. Mereka semua menebar kerusakan hanya demi mengeruk keuntungan, tanpa memperdulikan dampak buruk bagi mental bangsa. Siapapun orangnya, tanpa terkecuali orang dewasa, terlebih lagi anak-anak, bila sering dicekoki dengan cerita-cerita bertema syetan dan cerita seram lainnya, akan tertanam pada dirinya jiwa penakut. Hal ini tidaklah mengherankan, mengingat ia selalu menerima informasi yang berupa bisikan syetan dan perasaan was-was. Padahal kita selaku mukmin diperintahkan untuk selalu berlindung kepada Allah k dari godaan syetan. Nabi r besabda,
إِنَّ الشَيْطَانَ يَجْرِيْ مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

Sesungguhnya syetan itu mengalir pada Bani Adam pada aliran darahnya.

Rasa takut yang mencekam terhadap hantu dan syetan, bisa menjadi syirik akbar, yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, bila membawa manusia bersikap beribadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Misalnya, karena takut syetan, seseorang mengucapkan mantera untuk jin, yang biasanya mantera ini didapat dari dukun atau biasa disebut dengan “orang pintar” padahal sok pintar. Atau ia menggantung jimat di badannya, di rumahnya, di kendaraanya dan lain-lain, dengan keyakinan bahwa jimat tersebut dapat menolak bala dan bahaya. Adapun bila rasa takut (yang sebenarnya tidak beralasan itu) tidak membawa kepada beribadah (apapun bentuknya) kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni hanya ketakutan dan cekaman rasa was-was, maka hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam, yang memerintahkan kita untuk tidak takut kepada selain Allah, mengurangi kesempurnaan tauhid dan merupakan sifat pengecut yang tercela.[2]

MENANGGULANGI SIFAT TAKUT HANTU PADA ANAK

Setelah memahami penyebab rasa takut pada anak, maka kita bisa mengambil kesimpulan, sebagai solusi untuk membasmi rasa takut tersebut. Di antaranya sebagai berikut:

* Menanamkan tauhid dan keimanan pada anak.

Orang tua atau pendidik harus menjelaskan kepada anak, bahwa tidak ada kekuatan yang paling kuat, kecuali kekuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seluruh makhluk, termasuk jin dan syetan berada di bawah pengaturan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mentaqdirkan seseorang selamat, maka meskipun segenap jin dan menusia mengerahkan upayanya untuk mencelakakan, ia tidak akan celaka. Sebaliknya bila Allah Subhanahu wa Ta’ala mentaqdirkan seseorang celaka, ia akan celaka, walaupun segenap upaya dikerahkan untuk menyelamatkannya. Karena itu tidak perlu takut terhadap jin, hantu, bahkan pada perampok, pembunuh atau dukun santet.

* Ajarkan wirid dan do’a yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Doa dan wirid adalah senjata dan perisai bagi seorang mukmin. Karena jin, syetan serta para penjahat adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kita harus berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menghindarkan kita dari ganguan mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan kepada ummat Beliau do’a dan wirid sehari-hari. Wirid pagi dan sore, do’a keluar masuk rumah, do’a mendengar lolongan anjing, do’a masuk WC, do’a singgah di suatu tempat dan lain-lain. Para orang tua dan pendidik seharusnya mengajarkan do’a-do’a tersebut dengan penuh kesungguhan.

* Sebisa mungkin jauhkanlah anak-anak dari cerita-cerita hantu, pembunuhan dan cerita misteri yang semisalnya. Gantilah semua itu dengan cerita-cerita kepahlawanan para mujahidin, keberanian Nabi dan para sahabat Beliau. Mereka semua tidak gentar melawan orang-orang kafir dengan segala tipu dayanya.

* Bila orang tua penakut, jangan menampakkan sifat pengecut ini di hadapan anak-anak. Jangan pula menakut-nakuti anak dengan sesuatu yang kadang kala orang tua tidak sadar mengatakan sesuatu yang menampakkan sifat pengecutnya di hadapan anak-anak. Misalnya, orang tua menyuruh anak-anak masuk rumah menjelang maghrib, lalu menutup pintu sambil mengatakan,”Ayo masuk. Hiiiiiih……nanti kalau tidak mau masuk ada hantu”. Atau si ibu menjerit ketika listrik padam, sementara ibu sedang berada di kamar mandi. Para orang tua hendaklah belajar mengendalikan emosinya di hadapan anak-anak ketika menghadapi keadaan-keadaan yang mencekam. Memang tidak sedikit para orang tua yang punya sifat penakut. Mereka dibesarkan dalam lingkungan yang memaksa sifat “takut” yang tidak beralasan ini mengendap di dasar hatinya, di luar kemauan dan kehendaknya. Tetapi sebagai orang tua yang bertanggung jawab, tidak seharusnya sifat jelek itu kita turunkan kepada putra-putri kita. Karena itu hendaknya para orang tua lebih menanamkan pada hatinya tauhid dan keimanan, agar jiwa mereka menjadi tegar. Si buah hati pun diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, bertauhid serta tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahu waliyyut taufiq

(Ummu Khaulah)

Senin, 14 November 2011

Bersentuhan Dengan Lawan Jenis Membatalkan Wudhu?

Bismillahirrahmanirrahim

… atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (QS An Nisaa : 43)

Alhamdulillahirabbil alamin… Berkat rahmat-Nya saya masih diberi kesempatan untuk berbagi ilmu dengan pembaca semua. Shalawat selalu tercurahkan ke Rasulullah SAW yang telah mengajarkan ilmu dunia wal akhirat kepada umat manusia seluruhnya.

Sebelumnya, ada alasan tersendiri mengapa saya memilih judul artikel ini. Sedikit saya bercerita mengenai pengalaman KKN saya dahulu, di mana segala bentuk interaksi sosial telah kami kelompok KKN lakukan. Yang membuat saya agak penasaran dan tertarik saat ada perdebatan mengenai menyentuh wanita itu membatalkan wudhu atau tidak, karena ada dua kubu yang sama-sama tak mau mengalah; batal atau tidak. (saya netral aja dah, ilmu belum banyak soalnya) makanya saya mencari kepastian hal ini di internet. Mungkin banyak yang berpendapat (khususnya di Indonesia) menyentuh lawan jenis itu membatalkan wudhu, Dan inilah hasil yang saya dapat:

Ada 3 pendapat mengenai pembahasan ini:

Pendapat PERTAMA, wudhu itu batal baik sentuhan tersebut diiringi dengan syahwat ataukah tidak.
Ibnu Katsir mengatakan, “Pendapat yang mengatakan wajibnya berwudhu karena sekedar menyentuh perempuan adalah pendapat Syafii dan para ulama mazhab Syafii, Malik dan pendapat yang terkenal dari Ahmad bin Hanbal” (Tafsir al Qur’an al Azhim 1/669, terbitan Dar Salam).
Pendapat ini juga didukung oleh Ibnu Hazm. Ibnu Mas’ud dan Ibnu Umar juga berpendapat dengan pendapat ini.

Pendapat KEDUA, bersentuhan dengan perempuan tidaklah membatalkan wudhu sama sekali. Inilah pendapat Abu Hanifah, Muhammad bin Hasan asy Syaibani dan sebelumnya merupakan pendapat Ibnu Abbas, Thawus, al Hasan al Bashri dan Atha’. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah.

Pendapat KETIGA mengatakan bahwa menyentuh perempuan itu membatalkan wudhu jika diiringi syahwat dan tidak membatalkan wudhu jika tanpa syahwat.

Pendapat yang pertama adalah pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama namun pendapat yang paling KUAT adalah pendapat yang kedua jika ditinjau dari tafsir Al-Qur’an oleh seorang ahli tafsir (Ibnu Abbas) sebagai berikut:

Artinya : “atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)” (QS. An Nisaa : 43)
Artinya : “atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih).” (QS. Al Maidah : 6)

Kata itu adalah kiasan dari jima’ (bersetubuh), berdasarkan firman Allah swt :

Artinya : “Jjika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu menyentuh (menggauli) mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu.” (QS. Al Baqoroh : 237)
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuan- perempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu menyentuhnya (menyetubuhinya) maka sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya.” (QS. Al Ahzab : 49)

Ibnu Jarir mengatakan : Humaid bin Mas’adah telah bercerita kepada kami ; Yazid bin Zurai’ pernah bercerita kepada kami ; Syu’bah pernah bercerita kepada dari Abu Bisyr dari Said bin Jabir berkata, ”Mereka menyebutkan al lams (menyentuh). Orang-orang dari al Mawaliy mengatakan bahwa makna (kata) itu bukanlah jima’ sementara orang-orang Arab mengatakan bahwa al lams adalah jima’.” Said bin Jabir berkata, ”Aku pun mendatangi Ibnu Abbas lalu aku katakan kepadanya, ”Orang-orang dari al Mawaliy dan Arab berbeda berselisih tentang al lams, orang-orang al Mawaliy mengatakan bahwa ia bukanlah jima’ sedangkan orang-orang Arab mengatakan bahwa ia adalah jima’.” Lalu Ibnu Abbas mengatakan, ’Sedang kamu dari kelompok yang mana dari keduanya?’ Said bin Jabir mengatakan,”Aku bersama orang-orang al Mawaliy.” Ibnu Abbas berkata, ”Kelompok al Mawaliy telah dikalahkan (kurang tepat), sesunguhnya al lams, al mas dan al mubasyaroh semuanya bermakna jima’ namun Allah swt membuat kiasan sesuai dengan kehendak-Nya dengan apa yang dikehendaki-Nya.
Ibnu Abbas adalah termasuk ulama ahli tafsir Al-Qur'an, oleh karenanya pendapat seorang ahli tafsir lebih kuat dari pendapa ulama lainnya.

Juga diperkuat oleh hadist berikut:

Dari Aisyah, Aku tidur melintang di hadapan Rasulullah yang sedang shalat. Kedua kakiku terletak di arah kiblat. Jika beliau hendak bersujud beliau sentuh kakiku sehingga kutarik kedua kakiku. Jika beliau bangkit berdiri kembali kuluruskan kakiku. Aisyah bercerita bahwa pada waktu itu tidak ada lampu di rumah (HR Bukhari no 375 dan Muslim no 272).
Hadits di atas menunjukan bahwa sentuhan antara laki-laki dan perempuan tidaklah membatalkan wudhu. Seandainya wudhu batal tentu shalat yang Nabi lakukan juga batal.

Dari Aisyah, sesungguhnya Nabi itu sering mencium salah seorang istri kemudian beliau langsung shalat tanpa mengulang wudhu (HR Nasai no 170 dan dinilai shahih oleh al Albani).
Hadits ini menunjukkan bahwa sentuhan bersyahwat itu tidak membatalkan wudhu.
Sebagaimana kita ketahui bahwa mencium istri itu identik dengan syahwat.

Barangsiapa memilih salah satu pendapat maka hendaklah memilih berdasarkan ilmu dan dalil. Dan tidak boleh menjadikan perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyyah seperti ini sebab pertikaian dan permusuhan.

Intinya tidak ada hadist yang jelas-jelas membuktikan masalah ini, semua berdasarkan tafsir dan ijtihad para ulama. Namun, tidak ada yang perlu
dipermasalahkan dari ketiga pendapat diatas karena semua memiliki penafsiran yang berbeda-beda. Yahhh… silakan mengikuti pendapat yang mana saja, asalkan anda mengerti asal dan dalilnya. Karena saya sendiri cenderung kepada pendapat yang lebih kuat.

Wallahua’lam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Sabtu, 05 November 2011

Momen Idul Adha ; Tidak Sekedar Berkurban dan Berhaji


Bismillahirrahmanirrahim
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al-Hajj : 34)

10 Dzulhijah 1432 Hijriyah/ 6 November 2011, umat muslim di seluruh dunia bersukacita menyambut datangnya hari raya yaitu idul kurban. Seyogyanya hari ini memang patut dirayakan dengan bermuhasabah/ insstropeksi diri, bukan dengan foya-foya. Karena latar belakang hari ini ialah pengorbanan 2 orang nabi Allah di masanya; Ibrahim dan Ismail.
Banyak yang menganggap bahwa hari idul kurban adalah waktu yang tepat untuk berkurban, bersedekah, beramal jariyah sebanyak-banyaknya. Ya… tidak bisa dikatakan salah, tapi saya anggap ini juga kurang tepat. Karena sesungguhnya hari idul kurban ini adalah pencetus bagi seorang mukmin untuk mulai berkurban, dan rutin untuk hari-hari ke depan juga seperti itu.

Jadi, kita diajarkan untuk berkurban secara istiqamah, secara rutin, kontinuitas. Berkurban cukup hari ini saja, tapi 1 ekor sapi, 2 ekor kambing, 3 unta, tidak seperti itu!!!. Walaupun kita berkurban sekedar 500 rupiah saja namun itu rutin setiap harinya maka itu lah yang lebih diutamakan dan lebih mulia di mata Allah SWT. So… nilai istiqamah dalam berkurban inilah yang seharusnya kita petik pada hari idul adha ini.


Mungkin sama halnya dengan berhaji. Setiap tahun, orang-orang muslim yang berkecukupan selalu melaksanakan ibadah haji, tidak sedikit pula yang hajinya bahkan sudah 2-3 kali. Namun apakah itu perlu? Bukankah berhaji itu adalah rukun Islam kelima yang diwajibkan hanya dilaksanakan sekali saja bagi yang mampu. Untuk yang seterusnya tentu sudah menjadi sunah, Menyantuni si fakir dan anak-anak yatim yang masih buaaaanyakkk di negeri ini adalah sunah juga, namun sunah yang mendekati wajib. Alangkah lebih afdol jikalau ongkos naik haji untuk yang kedua atau ketiga kalinya itu digunakan untuk membantu mereka saja, para anak-anak yatim, dan saya rasa itu akan lebih bernilai di mata Allah SWT karena disini dituntut pengorbanan untuk membantu sesama.

Pernah sebuah hadist Rasulullah menjelaskan bahwa beliau dan orang-orang yang membantu anak-anak yatim itu dekatnya bagai jari telunjuk dan jari tengah di akherat nanti.

Alangkah bersyukurnya jikalau kita sesama muslim bisa saling berbagi, alangkah beruntungnya para orang kaya yang mensyukuri hartanya dengan sifat kedermawanannya. Alangkah bahagianya para orang miskin yang bersabar atas kemiskinannya. Dan alangkah mulianya orang yang selalu mengabdikan hidupnya di jalan Allah dengan istiqamah dan selalu bermuhasabah…

Wallahualam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Minggu, 30 Oktober 2011

Cerita mahasiswa Indonesia di Ausie

Suatu pagi,kami menjemput seseorg klien di bandara.Org itu sdh tua,kisaran 60 thn.Si Bpk adl pengusaha asal Singapura,dgn logat bicara gaya melayu&english,beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kpd kami yg msh muda.
Beliau berkata,"Ur country is so rich!"

Ah biasa banget denger kata2 itu. Tapi tunggu dulu."Indonesia doesn't need the world,but the worl...d needs Indonesia,"lanjutnya. "Everything can be found here in Indonesia,U don't need the world."
"Mudah saja,Indonesia paru2 dunia.Tebang saja hutan di kalimantan,dunia pasti kiamat. Dunia yg butuh Indonesia! Singapura is nothing,we can't be rich without Indonesia 500.000 org Indonesia berlibur ke Singapura tiap bulan.Bisa terbayang uang yg masuk ke kami,apartemen2 terbaru kami yg beli org2 Indonesia,ga peduli harga selangit, laku keras.Lihatlah RS kami,org Indonesia semua yg berobat.

Trus,kalian tau bgmna kalapnya pemerintah kami ketika asap hutan Indonesia masuk?Ya,bener2 panik.Sangat terasa,we are nothing.Kalian tau kan kalo Agustus kmrn dunia krisis beras.Termasuk di Singapura dan Malaysia? Kalian di Indonesia dgn mudah dpt beras.Liatlah negara kalian, air bersih di mana2,liatlah negara kami,air bersih pun kami beli dari Malaysia.
Saya ke Kalimantan pun dlm rangka bisnis,krn pasirnya mengandung permata.Terliat glitter kalo ada matahari bersinar. Penambang jual cuma Rp 3rb/kg ke pabrik china,si pabrik jual kembali seharga Rp 30rb/kg.Saya liat ini sbg peluang.Kalian sadar tidak kalo negara2 lain selalu takut meng-embargo Indonesia!
Ya,karena negara kalian memiliki segalanya.Mereka takut kalau kalian mnjadi mandiri,makanya tidak di embargo.

Harusnya KALIANLAH YG MENG-EMBARGO DIRI KALIAN SENDIRI. Belilah pangan dr petani2 kita sendiri,belilah tekstil garmen dr pabrik2 sendiri.Tak perlu impor klo bs produk sendiri.

Jika kalian bs mandiri,bisa MENG-EMBARGO DIRI SENDIRI, INDONESIA WILL RULE THE WORLD!!

Jumat, 28 Oktober 2011

SUMPAH PEMUDA PUN SEMAKIN USANG DI MATA PEMUDA

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Itulah sejenak sebuah kalimat yang singkat, yang telah dirumuskan oleh para pemuda Indonesia saat kongres pemuda di zaman penjajahan dulu. Suatu kalimat singkat namun mengandung banyak unsur sejarah, perjuangan, dan pengertian di dalamnya. Dibutuhkan sebuah perjuangan keras dari para pemuda Indonesia dahulu hanya untuk mencanangkan kalimat tersebut, dengan berusaha mempersatukan seluruh rakyat Indonesia yang berbeda-beda di kala itu. Bhineka tunggal ika…

Sumpah Pemuda merupakan bukti otentik bahwa pada tanggal 28 Oktober 1928 Bangsa Indonesia dilahirkan, oleh karena itu seharusnya seluruh rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia, proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945. Betapa dijunjungnya makna sumpah pemuda di kala itu,

Namun saat ini…

Sedikit demi sedikit, perjuangan pemuda itu kini semakin terkikis di jiwa generasi muda saat ini. Peristiwa itu hanya diceritakan sebagai sejarah di bangku-bangku sekolah, tanpa adanya pemberitahuan yang jelas dan benar dari makna sumpah pemuda itu. Hasilnya, sumpah pemuda hanya dianggap sebagai sejarah saja, tanpa ada pikiran dari generasi muda sekarang untuk mengaplikasikannya ke dalam kehidupan.
Lambat laun… sumpah pemuda semakin usang di antara pemuda kita. Hanya segelintir yang tahu mengenai hari sumpah pemuda yang jatuh pada hari ini, 28 Oktober. Dan lebih sedikit lagi dari mereka yang berusaha untuk menghidupkan semangat sumpah pemuda itu.

Banyak yang tidak mengerti apa itu sumpah pemuda, banyak pula yang tidak menghiraukan sumpah pemuda, banyak juga yang bahkan tidak tahu kapan dan apa isi dari sumpah pemuda. Para pemuda sekarang telah melupakan jati dirinya sendiri sebagai pemuda Indonesia. Dirasuki oleh budaya-budaya kapitalisme dan hedonism sehingga melunturkan budaya nasionalismenya. Sumpah Pemuda diwujudkan untuk menyatukan satu rasa tanggung jawab dan kebersamaan pemuda untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara. Lantas yang terjadi sekarang?

Tawuran antar pemuda yang notabene dilakukan oleh SISWA dan MAHASISWA, bentrokan antar warga hanya dikarenakan perbedaan-perbedaan sepele. Saya yakin, ketika makna sumpah pemuda telah meresap di hati setiap insan Indonesia maka hal seperti tawuran dan bentrokan itu tidak akan ada…

Apa yang bisa kita lakukan sebagai pemuda sekarang?


Ingat!!! Memperingati hari sumpah pemuda tidak identik dengan unjuk rasa di jalan-jalan menuntut hak-hak pemuda. Akan lebih baik kita sebagai pemuda menjunjung tinggi makan sumpah pemuda dengan meneruskan perjuangan para pemuda dahulu. Bersatu, berdaulat, menuntut ilmu setinggi-tingginya, berkreasi, mengembangkan dan mengharumkan nama bangsa ini sehingga mampu bersaing dengan negara-negara maju lainnya, dan semacamnya. Jangan hanya mengembangkan dan menguntungkan diri sendiri tanpa adanya usaha untuk mengaplikasikan keterampilannya demi kemajuan Negara.

Khususnya generasi muda diminta untuk terus memegang kemurnian Sumpah Pemuda sebagai alat pemersatu Bangsa. Di sisi lain, saran pembelajaran formal seperti sekolah juga harus ikut bertanggung jawab guna menjaga kemurnian Sumpah Pemuda, dengan mengamalkan sifat cinta Tanah Air.

Keep spirit wahai pemuda, inilah masamu untuk berjaya!!!

Selasa, 25 Oktober 2011

Klasifikasi Dosa Besar

Bismillahirrahmanirrahim

Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga). (QS An Nisaa’ : 31)

Di dalam hadist banyak dijabarkan mengenai ibadah-ibadah baik wajib maupun sunnah yang keutamaannya dapat menghapuskan dosa-dosa manusia. Perlu diketahui bahwa dosa-dosa yang dihapuskan itu adalah dosa-dosa yang kecil saja. Untuk dosa-dosa bes ar sendiri apakah itu ada jaminan pasti dihapuskan? Wallahu’alam, itu hanyalah hak prerogatif Allah.

Jadi, jangan dikira dengan kita melakukan dosa besar banyak=banyak, lantas cukup beribadah sekali dua kali saja langsung dosa itu terhapuskan, tidak!!! (kok enak?!) Kecuali kita melakukan tobat nasuha (yang sesungguh-sungguhnya), mungkin barulah dosa-dosa kita baik yang besar maupun yang kecil bisa diampuni Allah. Namun perlu diingat… tobat nasuha itu berat bagi orang-orang yang munafik, dan dalam tobat itu harus ada perubahan total dalam ruhaniah kita. Dan saya rasa itu pun berat bagi kita jika tidak dilandasi niat dan pengetahuan yang benar. But… Jika hidayah Allah telah datang, maka tidak ada seorangpun yang dapat mencegahnya.

Nah… dari latar belakang itu, saya ingin berbagi sedikit mengenai apa saja yang termasuk dosa-dosa besar itu, sehingga kita semua SETIDAKNYA dapat menjauhkan diri dari perbuatn tersebut. (Tapi dosa yang kecilpun tetap harus dijauhi ya>>>)
Imam Abu al Malky mengkategorikan bahwa dosa besar itu dapat dibagi menjadi tujuh belas bagian. Pendapat ini atas dasar pebgumpulan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ibnu Ummar, dan lain sebagainya. Dari pendapat Imam Abu al Malky tersebut dapat diketahui sebagai berikut:

A. Dosa yang ditimbulkan oleh Hati
- Syirik kepada Allah SWT secara langsung (syirik besar) yaitu menganggap sesuatu sebagai Tuhan kemudian disembah dan dipuja seperti misalnya; batu akik, pohon keramat, kuburan, matahari, bulan , bintang, nabi, kyai, malaikat dan lain sebagainya.
- Syirik kecil (riya’) ialah ingin mendapatkan pujian dari orang lain dalam bearamal.
- Selalu berkecimpung dalam kemaksiatan, membenci orang lain dalam hati dan tidak mau memaafkannya.
- Putus asa dari rahmat Allah.
- Merasa bahwa dirinya terbebas dari segala balasan dan siksa Allah sehingga tidak mau menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya (kufur).

B. Dosa yang ditimbulkan oleh Lisan
- Kesaksian dusta atau kesaksian palsu, dalam hal ini juga termasuk berbohong dan menggunjing orang lain.
- Menuduh orang baik-baik melakukan zina.
- Sumpah palsu yakni ucapan resmi yang disertai kesaksian Allah untuk membenarkan keadaaan yang dipertahankan padahal sesuatu itu menyalahi kebenaran.

C. Dosa besar yang ditimbulkan oleh Perut
- Meminum minuman keras, khamar, atau yang mengandung alkohol (memabukkan)
- Memakan harta anak yatim dengan aniaya.
- Memakan harta riba’ termasuk di dalamnya mengambil uang orang lain dengan jalan yang batil.

D. Dosa Besar yang ditimbulkan oleh Kelamin
- Berzina
- Berhubungan badan dengan sesame jenis kelamin (homoseksual/lesbian).

E. Dosa besar yang ditimbulkan oleh Kedua Tangan
Ada banyak dosa yang disebabkan oleh kedua tangan ini, namun kali ini yang diutarakan hanyalah dosa yang besar dan sangat berbahaya.
- Membunuh orang tanpa alasan yang disyariatkan.
- Mencuri

F. Dosa besar yang ditimbulkan oleh Kedua Kaki
- Lari dari medan pertempuran (sewaktu berjihad di jalan Allah).

G. Dosa besar yang terdapat di seluruh Tubuh
- Durhaka kepada kedua orang tua.

Demikianlah dosa dosa besar yang harus kalian ketahui wahai saudaraku. Dengan mengetahui gambaran dosa-dosa besar maka diharapkan kita berhati-hati. Sebisa-bisanya menghindari perbuatan tersebut.

Sebenarnya cukup banyak dan rinci penjabaran mengenai masalah dosa besar di atas, namun saya hanya meringkasnya agar lebih mudah untuk dibaca dan dipahami.
Diringkas dari buku : Bertaubat Sebelum Ajal Tiba, Imam Al-Ghazali
Berikut ini adalah macam-macam dosa besar menurut kitab Al Kabair karya Syamsudin Adz Dzahabi yang semuanya berjumlah 75 dosa besar. Dosa-dosa besar yang dimaksud adalah :

1. Menyekutukan Allah (Syirik)
2. Membunuh orang dengan sengaja
3. Sihir
4. Meninggalkan sholat Fardlu
5. Enggan membayar zakat
6. Tidak puasa Ramadhan tanpa alasan
7. Enggan menunaikan haji
8. Durhaka kepada kedua orang tua
9. Menjauhi kerabat ( Memutus hubungan silaturahmi )
10. Zina
11. Homoseksual
12. Riba
13. Memakan harta anak yatim dengan cara zalim
14. Dusta
15. Melarikan diri dari peperangan
16. Pemimpin yang menipu rakyat
17. Berlaku sombong
18. Kesaksian palsu
19. Minum minuman keras
20. Judi
21. Menuduh zinah kepada perempuan baik
22. Khianat dalam harta rampasan perang
23. Mencuri
24. Merampok
25. Sumpah palsu
26. Berbuat zolim
27. Membantu berbuat zolim
28. Memperoleh kekayaan dengan cara haram
29. Bunuh diri
30. Suka berbuat dusta
31. Hakim yang durhaka
32. Menyuap dalam masalah hukum
33. Perempuan menyerupai laki-laki dan sebaliknya
34. Mengasuh keluarga dalam dosa
35. Kawin dengan dasar cinta buta
36. Sisa kencing yang tidak dibersihkan
37. Riya ( Pamer)
38. Menyembunyikan ilmu
39. Khianat
40. Mengungkit-ungkit pemberian
41. Mengingkari takdir
42. Menyelidiki rahasia orang (Tajassus)
43. Mengadu domba ( Namimah)
44. Mengutuk orang muslim
45. Mengingkari janji
46. Percaya kepada dukun dan tukang ramal
47. Nusyuz seorang perempuan terhadap suami
48. Menggambar patung dan makhluk hidup lainnya
49. Meratapi orang mati ( Niyahah)
50. Berperangai jelek
51. Zalim terhadap orang yang lemah
52. Menyakiti hati tetanga
53. Menyakiti dan mencaci maki orang Islam
54. Durhaka terhadap hamba Allah
55. Mengagumi diri dan sombong dengan berpakaian yang berlebih-lebihan
56. Menyembelih binatang untuk sesajen
57. Hamba sahaya melarikan diri dari tuannya
58. Memalsukan keturunan
59. Menentang kebenaran
60. Enggan memberikan kelebihan air
61. Mengurangi Timbangan dan Takaran
62. Berbuat dosa tetapi merasa aman dari kemurkaan Allah
63. Meninggalkan jamaah sholat Jum’at
64. Curang dalam berwasiat
65. Tipu daya
66. Mencaci orang Islam dan membeberkan rahasianya
67. Makan dan minum pada bejana emas dan perak
68. Mencela sahabat Nabi Muhammad SAW
69. Buang air besar ditempat berteduh
70. Kencing di tempat air untuk mandi
71. Nifak : sifat yang berbeda antara lahir dan bathin
72. Lupa kepada Allah
73. Kikir
74. Memakan 4 makanan yang diharamkan: bangkai, Daging babi, darah dan daging binatang yang disembelih selain nama Allah
75. Kufur kepada Allah

Wallahua’lam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Jumat, 14 Oktober 2011

Sebab Doa tak Terkabul

Bismillahirrahmanirrahim

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS Al-A’raaf : 56)

Mungkin banyak yang dari kita yang bertanya-tanya mengapa doa kita tidak dikabulkan oleh Allah, maka artikel satu ini mungkin dapat menjawab pertanyaan kita semua sehingga kita sadar dan dapat instropeksi diri sendiri.

Seorang sufi ternama asal Persia, Ibrahim bin Adham pernah ditanya sebagai berikut : “Mengapa kami sudah lama berdoa tetapi doa kami tidak dikabulkan? Padahal Allah berfirman : “Berdoalah kalian kepada-Ku niscaya akan Kukabulkan doa kalian”(QS Al Mu’min : 60). ”Apa yang menyebabkannya?”

Ibrahim menjelaskan “hati kamu MATI karena 10 perkara :
1.Kamu mengaku mengenal Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajiban kepada-Nya.
2.Kamu mengenal Al Qur’an, tapi tidak membacanya dan mengamalkan isinya.
3.Kamu mengaku cinta kepada Rasulullah SAW, tapi kamu tinggalkan Sunahnya.
4.Kamu menyatakan bermusuhan dengan syaitan, tetapi kamu ikuti ajakannya.
5.Kamu ingin masuk surga, tetapi tidak sungguh-sungguh dalam beramal untuk memasukinya.
6.Kamu ingin selamat dari siksa neraka, tetapi kamu melemparkan dirimu sendiri ke dalamnya.
7.Kamu sibuk mengoreksi aib orang lain, tapi kamu tidak mau mengoreksi aib kamu sendiri.
8.Kamu tahu kematian itu pasti datang, tetapi kamu tidak mempersiapkan diri untuk itu.
9.Kamu menguburkan orang-orang mati, tetapi kamu tidak mengambil pelajaran dari mereka.
10.Kamu telah diberi berbagai nikmat oleh Allah SWT, tetapi kamu tidak mensyukurinya.
Lalu bagaimana mungkin doa kalian dikabulkan?”

See?... Bukankah jelas dari uraian di atas mengapa doa kita sering tidak terkabul. Oleh karenanya hindarilah hal-hal di atas tersebut dan mulailah dengan berdoa yang khusyu’, penuh harapan agar doa kita dikabulkan. Manusia akan merasa tenang ketika memiliki sebuah “tempat” untuk berdoa. Maka berdoalah dengan bersungguh-sungguh, insyaAllah dikabulkan…

Kita juga hendaklah menjaga adab-adab berdoa diantaranya:...
1.Berdoa dengan penuh rasa rendah diri dan ikhlas.
2.Tidak tergesa-gesa.
3.Dalam keadaan bersih.
4.Menggunakan Asma'Ul-Husna, dimulai dengan memuji Allah.
5.Tidak berdoa untuk keburukan.
6.Berselawat ke atas Nabi Muhammad s.a.w.
7.Menghadap kearah Qiblat.
8.Mengangkat tangan ke paras bahu.
9.Istiqamah.
10.Doa yang singkat dan padat.

Oleh itu, marilah kita bersama-sama muhasabah diri kita di samping meningkatkan kualitas doa kita... Berdoalah dengan sepenuh keikhlasan hati..Buangkan segala perasaan ego dan bangga diri di kala meminta pertolongan daripada Allah SWT...Jagalah setiap perbuatan kita daripada melakukan dosa...

Wallahua’lam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Sabtu, 08 Oktober 2011

Haramkah Foto?

Bismillahirrhamanirrahim…

… Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." (QS Ar Ra’d : 16)

Saat ini sedang trend dengan mengabadikan diri dan pengalamannya di dalam sebuah gambar atau lebih dikenal dengan sebutan berfoto. Nahhh… Karena ini bisa dipastikan sudah menjadi “kewajiban” apalagi di saat bepergian ke tempat-tempat terkenal, misterius, maupun tempat-tempat rekreasi, maka saya berinisiatif untuk berbagi artikel ini kepada pembaca, bagaimana sih sebenarnya hukum berfoto itu? Karena mungkin banyak teman-teman kita sendiri (khususnya yang alim) sering menghindari berfoto karena kehati-hatiannya terhadap sesuatu yang masih meragukan. So… Let’s read,

Ada seorang yang bercerita bahwa dia dahulu sebelum mendapatkan taufik dari Allah dalam hidayah yang sempurna pernah mencucicetakkan foto. Dia lantas menanyakan hukum dari foto.

Jawaban Syaikh Abdus Salam Barjas, “Gambar foto adalah suatu permasalahan yang kalian ketahui hukumnya diperselisihkan oleh para ulama. Akan tetapi menurut pendapat ulama yang membolehkan foto, menyimpan foto bukanlah perbuatan yang dianjurkan sehingga selayaknya seorang muslim tidak mencuci cetakkan foto.

Memang beliau adalah diantara yang membolehkan gambar foto baik karena ada kebutuhan atau pun tanpa ada kebutuhan karena gambar foto itu tidak tercakup dalam dalil-dalil yang melarang membuat gambar. Dalil-dalil yang melarang membuat gambar hanyalah mencakup patung dan lukisan dengan tangan. Terlarangnya membuat patung dan melukis dengan tangan adalah perkara yang disepakati oleh para ulama.

Sedangkan gambar foto itu tidak menyaingi ciptaan Allah karena yang ada di foto itu adalah ciptaan Allah itu sendiri cuman bayang-bayangan ciptaan Allah itu ditahan di lembaran kertas foto. Makna dari ‘menyaingi ciptaan Allah’ adalah meniru bentuk dari rupa makhluk hidup sebagaimana yang Allah ciptakan boleh jadi dengan cara memahat, membuat patung atau pun dengan ketrampilan tangan.

Persyaratan ini tidak terpenuhi pada gambar foto. Meski demikian, meninggalkan, menjauhi perbuatan mengambil gambar foto atau pun menyimpan foto adalah sesuatu yang dianjurkan akan tetapi menurut beliau tidak sampai derajat wajib”

Wallahua’lam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…




Disadur dari www.salafiyunpad.wordpress.com dari www.ustadzaris.com

Kamis, 29 September 2011

Tujuan Berhijab (Jilbab) dan Fakta yang Ada

Bismillahirrahmanirrahim

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al Ahzab : 59)

"Apa sih melebarkan jilbab itu, padahal tetanggaku yang jilbabnya lebar saja membiarkan anaknya tidak mencuci bekas kencingnya yang najis. Itu buktinya dia kan gak tahu kalau itu menyebabkan najis. Lantas apa gunanya dia berjilbab lebar…" (pengakuan seorang teman)

Dari kata-kata itulah mengapa saya cukup tertarik untuk membahas mengenai judul di atas. Masih banyak orang yang salah kaprah mengartikan makna sebenarnya dari berhijab/berjilbab/ menutup aurat. Yap.. sedikit banyaknya Al-Qur’an surah Al Ahzab di atas telah menceritakan tujuan para wanita diwajibkan untuk berjilbab.
Jadi jilbab yang benar itu adalah menutup seluruh bagian tubuh wanita terkecuali muka dan telapak tangan, diulurkan/dilebarkan/dipanjangkan sehingga tidak memperlihatkan BENTUK TUBUH sang wanita tersebut.

Malah menurut Kemenag RI "Jilbab ialah Sejenis Baju Kurung yang Lapang Yang Dapat Menutup Kepala, Muka, dan Dada." Definisi ini menunjukkan bahwa muslimah yang berjilbab menurut Kementerian Agama RI adalah dengan bercadar. Jika tidak bercadar maka belumlah dikatakan berjilbab karena belum memenuhi kriteria "menutupi muka". (nah lho… silahkan dipikirkan wahai kaum hawa _-)

Dari sumber-sumber yang tersedia, ada beberapa hipotesa yang bisa saya ambil bahwa :

1. Berjilbab itu wajib bagi kaum muslimah dan merupakan perintah langsung dari Allah SWT yang disampaikan melalui wahyu-Nya kepada Rasulullah SAW. Beberapa filosofi yang berpendapat bahwa jilbab itu hanya merupakan kebudayaan bangsa Arab saat itu, merupakan pendapat yang batil.

2. Berjilbab itu minimal menutupi seluruh tubuh terkecuali muka dan telapak tangan, dilapangkan sehingga tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya baik yang bagian atas sampai yang bagian bawah.

3. Tujuan dari berjilbab itu adalah menutup aurat, lebih mudah dikenali sebagai wanita muslim, dan agar terhindar dari gangguan kaum pria (apalagi pria-pria yang di hatinya memeang sudah ada penyakit).

4. Perlu diperhatikan bahwa wanita yang berjilbab belum bisa dikatakan memiliki pengetahuan yang tinggi tentang ilmu agama. Namun, ketika seorang wanita telah bersungguh-sungguh untuk melebarkan jilbabnya maka insyaAllah wanita tersebut memiliki akhlak yang baik. Jadi, jilbab yang lebar belum mencerminkan ketinggian ilmunya tapi dapat mencerminkan ketinggian akhlaknya.

5. Allah senantiasa menjaga kaum hawa yang berhijab/jilbab. Dalam artian yang dijaga adalah mereka yang niat berhijab tidak lain dan tidak bukan karena Allah SWT. Bagi mereka yang memiliki niat lain dalam berhijab seperti; untuk mode, agar kelihatan lebih manis, karena paksaan semata, dan lain sebagainya sehingga mereka tidak bersungguh-sungguh dalam berhijab maka… Wallahua’alam, lah… ^_^

Dan masih banyak lagi sebenarnya tentang kekhususan berjilbab, tapi poin-poin di atas adalah yang umum dan penting untuk diketahui. So… let’s think about it…
Semoga kita semua diberi hidayah oleh Allah SWT agar bersungguh –sungguh dalam menjalankan perintahnya dan mampu hijrah dari jurang kemunkaran menuju ke gunung ma’ruf, aminn…

Wallahua’lam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Sabtu, 24 September 2011

7 Penyakit Umat Islam di Zaman Modern

Bismillahirrahmanirrahim

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS Yunus : 57)

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam yang telah memberikan kebahagiaan kepada umat manusia dengan diturunkannya Al-Qur’an yang menjadi penyembuh hati bagi kita semua. Salam selalu terlimpah ke Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia ke alam yang penuh cahaya Illahi.

Dari fenomena-fenomena yang terjadi saat ini pada umat muslim di Indonesia ini khususnya, saya tertarik untuk berbagi ulasan mengenai hal-hal tabu yang menjadi lumrah akibat pegeseran dan tergerusnya budaya malu bangsa ini. Hal ini bisa saya katakan sebagai penyakit-penyakit hati baru yang tumbuh dan menjamur di masyarakat bangsa ini (akibat pengaruh setan dan hawa nafsu). Ada banyak sebenarnya yang bisa diceritakan mengenai “penyakit” kita sekarang ini, namun saya hanya akan membahas yang paling umum dan banyak dilakukan saja: Lets begin… ^_^

1. Menunda-nunda Sholat
Abdullah (bin Mas'ud) r.a. berkata, "Saya bertanya kepada Nabi, 'Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?' (Dalam satu riwayat: yang lebih utama 3/200) Beliau bersabda, 'Shalat pada waktunya' Saya bertanya, 'Kemudian apa lagi?' Beliau bersabda, 'Berbakti kepada kedua orang tua.' Saya bertanya, 'Kemudian apa lagi'? Beliau bersabda, 'Jihad (berjuang) di jalan Allah."' ( HR Shahih Bukhari)

Yaps… Yang paling umum dan sering kita lakukan ini, termasuk di dalamnya menunda-nunda untuk berbuat kebaikan. Ketika setan tidak bisa menghasut kita untuk berhenti shalat lima waktu, maka setan mungkin telah berhasil menghasut kita untuk sering menunda-nunda waktu sholat kita. Padahal begitu besar keutamaan orang yang bersegera mengerjakan shalat. Menunda-nunda shalat ini dikecam oleh Rasulullah SAW ketika tidak disertai alasan yang disyariatkan, seperti malas, mengantuk, asyik-asyiknya facebookan, twitteran, atau karena masih mengerjakan sesuatu yang seyogyanya tidak apa bila ditunda sebentar. Jadi.. mari kita mulai dengan bersegera melakukan shalat bila telah masuk waktunya.

2. Berpacaran
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Israa’: 32)

Hal ini popular dikembangkan oleh generasi muda sekarang ini bahkan ada yang mulai sejak SD, walaupun ada manfaat yang bisa diambil dari berpacaran ini namun tentu saja mudharatnya lebih besar. Karena aktivitas ini termasuk yang paling besar memicu perzinaan di kawula muda sehingga mereka pun sudah tidak asing dengan istilah free seks, “nyoba” dulu sebelum kawin, dan sebagainya. Untuk itulah Islam mengharamkan berpacaran, karena pelaku di dalamnya akan terjerumus ke dalam perbuatan-perbuatan yang mendekati zina. Larangan berpacaran ini sudah saya jelaskan di artikel sebelumnya ; “Berpacaran di Bulan Ramadhan”

3. Jilbab Tapi Telanjang

Waww… yang satu ini banyak kita lihat di mana-mana. Mereka mengenakan jilbab, namun baju dan celananya dibuat seketat mungkin agar bentuk tubuhnya yang “aduhai” bisa kelihatan dan dinikmati banyak orang. Padahal secara medis saja, pakaian yang ketat itu akan mengganggu kesehatan dan dapat berakibat fatal, jadi kenapa masih tetap dipertahankan? Yang bisa saya katakan, percuma saja mereka berjilbab, walaupun mereka yang tidak berjilbab itu lebih parah tapi saya rasa sama saja deh… (gak pa pa nyinggung pembaca sekali-sekali ^_^). Tapi yang paling parah itu yaaa mereka yang memakai pakaian yang “belum jadi”, paha mulusnya kelihatan, betis indahnya tersingkap, punggung eloknya terpancar, bagian atas dadanya wuihhhh…
Lebih baik gak usah diteruskan dah, jangan dibayangkan juga (buat yang cowok) tapi dipikirkan hakekatnya… Sippp?!

4. Ujub dan Riya’
“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).

Ujub ini merasa bahwa dirinya yang paling pintar, paling benar, paling shaleh, paling baik dan paling-paling yang sebagainya namun tidak ditampakkan dalam tindakan dan perilakunya, hanya disimpan dalam hati saja. Bisa dikata ujub adalah sombong yang terselubung. Sedangkan Riya’ yaitu melakukan sesuatu yang baik dengan niat hanya ingin dipuji orang, tidak dengan niat ikhlas karena Allah. Kedua hal ini merupakan penyakit hati manusia yang sering dijadikan jeratan iblis untuk menjerumuskan muslim-muslin yang tingkatan imannya di atas rata-rata. Dan walhasil, secara tidak sadar banyak yang sudah terjebak, hati-hati yooo… ^_^

5. Korupsi
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS An Niisa : 29)

Melakukan korupsi ini juga sering kita lakukan secara tidak sadar namun masih dalam taraf yang kecil-kecil sih… Walau tidak separah dan seberbahaya korupsi di tingkatan pejabat, namun tetap saja korupsi yang kita lakukan adalah cikal bakal dari korupsi besar tersebut. Contoh : korupsi waktu (menyia-nyiakan waktu), korupsi ilmu (mengajarkan yang buruk, mengambil ilmu yang enak untuk dirinya sendiri tanpa diajarkan ke orang lain), korupsi kata (dengan berbohong dan memfitnah), riba, dan korupsi-korupsi kecil lainnya.

6. Membicarakan Orang Lain

Dalam Islam ini lebih sering dinamakan dengan ghibah. Dalam hal ini juga gossip mapun menonton tayangan-tayangan yang berbau gossip di media pertelevisian. Jikalau sesuatu yang dibicarakan itu benar itulah ghibah , namun jika sesuatu yang dibicarakan itu tidak benar maka itu adalah dusta. Allah SWT mengumpamakan dalam Al-Qur’an bahwa orang yang suka ber-ghibah itu seperti orang yang memakan daging bangkai saudaranya. Maka seharusnya kita merasa jijik untuk melakukannya.

7. Jarang Bersedekah dan Jarang Mensyukuri Nikmat
“Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, juga mendustakan dengan apa-apa yang baik -keterangan agama dan lain-lain-, maka Kami memudahkan untuknya dalam menempuh jalan kesukaran -maksudnya ialah kejahatan, kesengsaraan dan akhirnya menuju ke neraka-. Hartanya tidaklah akan berguna untuknya apabila ia telah jatuh -binasa-." (QS Al-Lail: 8-11)

Nah… yang satu ini juga luput dan sering tidak kita perhatikan. Kita memiliki kelebihan harta, namun tidak kita syukuri dengan bersedekah malah merasa iri dengan orang lain yang hartanya lebih banyak. Akibatnya… Kita menjadi bakhil bin pelit alias kikir bin medit, harta lebih sering kita hambur-hamburkan dengan berbelanja di barang yang sebenarnya hanya termasuk kebutuhan sekunder/tersier di mall-mall (budaya kapitalisme). Tuh.. Dosanya jadi triple kan, sudah bakhil, tidak mensyukuri, dapat dosa boros lagi. Ayo… yang sering-sering ke mall tu siapa? Think yourself…

Dari uraian panjang yang cukup singkat di atas mungkin kita perlu berinstropeksi diri lagi untuk mulai merubah perilaku kita ke arah yang di ridhoi Allah SWT. Seperti kata ulama kondang terkenal, “mari kita mulai dari diri sendiri, dari yang terkecil, dan dari sekarang.”

Wallahua’lam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Kamis, 22 September 2011

Waktunya Untuk Bangun Wahai Pemuda!!! (Potret Para Pemuda/i Islam Saat Ini)

Bislmillahirrahmanirrahim

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan “ Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS Al-Ahqaaf : 13)

DAHULU, sebelum usia 20 tahun Usamah bin Zaid telah menjadi panglima perang yang prajuritnya terdiri dari para sahabat Rasulullah SAW, di usia yang sangat muda pula Imam Syafi’I telah hafal Al-Qur’an dan menjadi mufti, dan masa mudanya sultan Muhammad al-Fatih berhasil merebut konstantinopel (kota penting bagi bangsa romawi) lalu mengubahnya menjadi Istanbul sekarang ini.

SAAT INI,
Sebelum lulus SMA banyak pemudi yang hamil di luar nikah, di usia sekolah kebanyakan dari kita takluk oleh hawa nafsunya, pemuda lainnya lebih suka menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang, pergi nongkrong, main game, dugem, dan lain-lain.
Kini kita lebih banyak belajar pada televisi, lebih banyak memakai Koran daripada Qur’an sebagai pedoman, dan ahlak jahiliyah kebarat-baratan yang lebih dipakai sebagai ukuran.
Sesama saudara dan teman saling merendahkan. Orang tua pun sudah banyak yang tak dihargai lagi. Kata kotor lebih banyak keluar dari mulut daripada dzikrullah.
Bioskop dan mall lebih ramai dari masjid meskipun di waktu-waktu shalat. Dan semakin banyak kaum muda yang terlalu “miskin” hingga tak punya cukup kain yang bisa menutupi auratnya.

Suka atau tidak itulah gambaran yang terjadi, kita tidak bias memungkiri kalau ada juga kaum muda yang punya segudang prestasi dalam pendidikan maupun olahraga. Tapi dalam agama? Ialah KTP mungkin Islam tapi apakah kelakuan sudah sesuai?
Apakah kita sudah kehilangan kepercayaan diri ataukah kehilangan jati diri?

Kita adalah pemuda yang dikoar-koar sebagai penerus generasi bangsa dan pemimpin masa depan, sebuah generasi yang diharapkan bisa mengembalikan kejayaan umat Islam dan bangsa ini dengan izin Allah Azza wa Jalla.
Bukan pemuda yang loyo dan mudah terlena oleh kenikmatan dunia sesaat.
Bukan pula pemuda yang rela menjual agama dan imannya dengan harga yang murah.
Atau kaum muda yang hanya mengejar embel-embel keren, gaul, gaya, macho, modis, seksi ataupun trendi.

Ingatlah, dalam artikel sebelumnya sudah saya katakana bahwa masa muda ini adalah masa yang pendek, maka harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Sebelumnya juga saya telah memberitahukan sabda nabi Muhammad SAW mengenai memanfaatkan lima waktu sebelum datang waktu yang lain.
Al Munawi mengatakan, Lima hal ini (waktu muda, waktu sehat, masa kaya, masa luang, dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang. :” (Al Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356).
Benarlah kata Al Munawi, “Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal.
Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia”.

Masa muda kita hanyalah sekali dan tidak akan terulang kembali dan waktu adalah sesuatu yang berharga, yang bisa kita manfaatkan atau malah balik melibas kita.
Pada akhirnya hanyalah ada dua golongan yang tersisa, yang pertama adalah yang sukses dan yang kedua adalah yang gagal. Perbedaan antara keduanya hanyalah tentang menggunakan waktunya saat muda, sehat, kaya, banyak waktu luang, dan hidup sebelum kematian.

Lihatlah pada diri sendiri. Sudah berapa umur anda saat ini, 15, 17, 21, 25, atau 30. Apa saja yang sudah engkau lakukan selama itu? Bermain-mainkah, atau berhura-hura?
Bagaimana dengan kewajiban agama, terlaksana ataukah cuek-cuek bebek?
Masalah yang dialami setiap kaum muda adalah hampir sama yaitu salah dalam memahami dan menyikapi masa mudanya. Hampir sebagian besar pemuda memiliki persangkaan dan persepsi, bahwa masa muda adalah masa berkelana, hura-hura, bersenang-senang, main-main, berfoya-foya dan menghabiskan uang (orang tuanya) dan waktu untuk bersuka ria semaunya dan belum waktunya untuk memikirkan agama.

Padahal sebaliknya, dalam agama pemuda adalah kuncinya. Ketika kita memasuki usia baligh (menjadi pemuda/dewasa) berarti kita sudah terkena kewajian-kewajiban syari’at, dan saat itu jugalah segala amal perbuatan kita baik maupun buruk sudah mulai dicatat.
Untuk itu sudah saatnya kita sebagai pemuda untuk bangun melepas belenggu mimpi dan angan-angan menyesatkan. Bangun untuk memperbaiki diri, menata kembali hidup yang masih tersisa untuk menjadi seorang hamba yang tunduk kepada Sang Pencipta. Hamba yang menegakkan agama, berlomba-lomba dalam kebaikan, mengajak yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar.

Jadilah pemuda yang giat menuntut ilmu yang bermanfaat dunia dan akhirat. Ilmu itu wajib dicari karena sungguh berbeda antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu.
Renungilah… Apakah sudah kita berwudhu dan shalat dengan benar, apakah kita beramal dan berkeyakinan yang benar? Semua itu bisa kita ketahui jika kita mencari ilmu dengan baik dan benar. Tidak lupa pula untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkan.
Janganlah menggunakan badan untuk bermaksiat dengan membawanya ke tempat-tempat maksiat, karena semua itu ada pertanggungjawabannya.

Wahai pemuda-pemudi Islam… Jadilah pemuda seperti pemuda yang berada dalam gua (Ashabul Kahfi) atau pemuda yang menjadi musuh raja zalim (Ashabul Ukhud). Mereka adalah pemuda-pemuda pilihan yang rela kehilangan nyawanya demi iman.
Mumpung masih muda, perkuatlah peganganmu pada agama, minta tolonglah kepada Allah, jagalah hak Allah niscaya Allah akan menjagamu, dan jangan luapa untuk terus berdoa memohon hidayah dan kekuatan untuk mudah menerima hidayah dan istiqamah di jalan-Nya.

Wallahu alam bisshowab
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…





Disadur dan diubah dari : Buletin Remaja Muslim Istiqomah Edisi: ke-11/tahun ke 1-18 Juni 2010

Senin, 19 September 2011

Pemerkosaan Tak Ada Hubungannya Dengan Rok mini?

Bismillahirrahmanirrahim...

Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (QS Yusuf : 23)

Ringkasan berita di Harian Surya 19 September 2011 ; ‘Cewek Rok Mini Lawan Perkosaan’
‘Puluhan perempuan yng sebagian besar mengenakan rok mini berunjuk rasa di Bundaran HI Jakarta pusat sebagai bentuk penolakan dan kecaman terhadap pemerkosaan serta tindakan menyalahkan perempuan yang selama ini biasanya menjadi korban pemerkosaan. Mereka juga mengkritik pernyataan Gubernur DKI Jakarta yang mengatakan bahwa rok mini menjadi salah satu pemicu pemerkosaan (mengomentari pemerkosaan yang terjadi belakangan ini di angkutan umum).

Pemerkosaan menurut salah seorang dari mereka BUKAN disebabkan wanita menggunakan rok mini melainkan kurangnya pengamanan dari pemerintah kepada masyarakat saat berada di ruang publik. Selain berorasi, mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan. “ Jangan salahkan baju kami, hokum pemerkosa.” Tubuhku tidak porno, otakmu yang porno, jangan salahkan bajuku, salahkan pemerkosa.”

Fauzi Bowo telah meminta maaf atas pernyataannya, “ Saya minta maaf atas pernyataan saya sebelumnya rawan salah tafsir. Saya sama sekali tidak bermaksud melecehkan kaum perempuan.” Saat itu Fauzi memberi pernyataan yang dianggap oleh banyak orang menyudutkan korban, “Bayangkan saja kalau orang naik mikrolet duduknya pakai rok mini, kan agak gerakh juga.” Kata fauzi sembari bercanda.

Pernyataan itu menyulut kemarahan banyak orang. Mereka menilai tak ada hubungannya antara pemerkosaan dan rok mini. Komisioner Komnas Perempuan menegaskan, “pakaian tak dapat menjadi tolak ukuran untuk seseorang dilecehkan atau tidak. Pakaian, lanjutnya, tidak menjadi faktor yang turut berkonstribusi terhadap terjadinya pemerkosaan di tempat umum.”

Apa yang dapat anda simpulkan dari berita di atas?

Entah kenapa, begitu membaca berita ini saya jadi gregetan untuk membahasnya mengingat berita pemerkosaan di angkot ini masih hangat dan sering diperbincangkan. Dan dari saya pribadi tidak setuju banget dengan kata-kata para wanita di atas. “Rok mini tak ada hubungannya dengan terjadinya pemerkosaan, salahkan otak yang porno, pakaian tidak menjadi faktor yang turut berkonstribusi terhadap terjadinya pemerkosaan di tempat umum.”

Dari sini saya mengambil kesimpulan kalau mereka hanya berpikir di satu sisi yang menguntungkan mereka saja. Padahal secara hukum logika dan agama saja, cara wanita berpakaian memberikan konstribusi besar terhadap terjadinya perzinaan maupun pemerkosaan.

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik, (QS Al Ahzab : 32)

Coba dipikirkan, seandainya seorang wanita yang berhijab berada di angkot itu pada waktu itu, dan kalau memang supir itu sudah berniat buruk dari awal maka % kemungkinan untuk dirampok mungkin sama namun % kemungkinan untuk diperkosa pasti tidak sama, yah… tu rampok juga pasti mikir, “ kalau gua perkosa ni cewek (yang berhijab), tambah banyak gak diampuni gua ama Tuhan. Gua ambil barangnya aja dah”
Berbeda kalau misalnya yang bajunya minim, perampoknya pasti mikir, “ aduhai juga ni cewek, bodi mulus, seksi, cakep… Ahhh sikat aja sekalian mumpung ada kesempatan.”

So… Di satu sisi si perampok itu memang yang seharusnya paling disalahkan, namun di sisi lain sang wanita juga bersalah karena secara tidak langsung dia telah memancing sesorang pria yang di hatinya sudah ada penyakit. Hal ini sesuai dengan surat Al-Ahzab ayat 32 di atas. Mungkin saja, supir itu hanya berniat merampok saja karena alasan tertentu, namun ketika melihat “pemandangan” yang indah di depannya, yaaa.. namanya pria yang “sehat” pasti mikir juga, setan juga tak henti ngomporin syahwatnya, jadinya ya sudah, terjadilah skandal itu.

Jadi kali ini saya ajak anda untuk berpikir realistis dan melihat dari berbagai sisi suatu permasalahan agar jangan sampai kita terperangkap salah satu jebakan setan ini yaitu fitnah media. Jangan melihat sesuatu itu di satu sisi saja karena sudah pasti anda akan tertipu oleh sisi itu. Berpikirlah wahai kaum hawa, bermuhasabahlah…

Wallahua’lam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Minggu, 18 September 2011

Tinggi Ilmu, Tinggi Ahlak?

Bismillahirrahmanirrahim

Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (QS Shaad : 46)

Kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi pengetahuan mengenai ahlak kita semuanya karena jika diperhatikan lebih seksama, orang yang ilmu agamanya tinggi belum tentu akhlaknya baik. Mungkin sudah banyak yang kita temui orang-orang seperti ini (dan mungkin saya sendiri juga termasuk -_-…) di sekitar khususnya orang-orang yang dulu notabenenya belajar di pesantren selama bertahun-tahun namun yang bertambah hanya ilmunya saja sementara keimanannya segitu-segitu saja, dan ahklaknya malah tambah bejat. (gak bermaksud mengejek hanya sekedar memberi contoh ^_^’)

Akhlak adalah salah satu tolak ukur iman dan tauhid

Hal ini yang perlu kita camkan sebagai penuntut ilmu agama, karena akhlak adalah cerminan langsung apa yang ada di hati, cerminan keikhlasan dan penerapan ilmu yang diperoleh. Lihat bagimana A’isyah rodhiallohu ‘anhamengambarkan langsung akhlak Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan teladan dalam iman dan tauhid, A’isyah rodhiallohu ‘anha berkata, “Akhlak beliau adalah Al-Quran” [HR. Muslim no. 746, Abu Dawud no. 1342 dan Ahmad 6/54]

Yang berkata demikian Adalah A’isyah rodhiallohu ‘anha, Istri yang paling sering bergaul dengan beliau, dan perlu kita ketahui bahwa salah satu barometer ahklak seseorang adalah bagaimana akhlaknya dengan istri dan keluarganya. Rasulolluh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” [H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan Al-Albani menilai hadits tersebut sahih].

Akhlak dirumah dan keluarga menjadi barometer karena seseorang bergaul lebih banyak dirumahnya, bisa jadi orang lain melihat bagus akhlaknya karena hanya bergaul sebentar. Khusus bagi suami yang punya “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istri dan keluarganya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.

Dan tolak ukur yang lain adalah takwa sehingga Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkannya dengan akhlak, beliau bersabda,
“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Iringilah kejelekan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskan kejelekan tersebut dan berakhlaklah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi no. 1987 dan Ahmad 5/153. Abu ‘Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Demikian pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Yang paling banyak memasukkan ke surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Maajah dan Al-Haakim dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Ilmu Agama hanya sebagai wawasan ?

Inilah kesalahan yang perlu kita perbaiki bersama, sebagian kita giat menuntut ilmu karena menjadikan sebagai wawasan saja, agar mendapat kedudukan sebagai seorang yang tinggi ilmunya, dihormati banyak orang dan diakui keilmuannya. Kita perlu menanamkan dengan kuat bahwa niat menambah ilmu agar menambah akhlak dan amal kita.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Salah satu tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah tatkala seorang hamba semakin bertambah ilmunya maka semakin bertambah juga tawadhu’ dan kasih sayangnya. Dan semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya.” [Al-Fawa’id hal 171, Maktabah Ast-Tsaqofiy]Bagi yang sudah “ngaji” Syaitan lebih mengincar akhlak bukan aqidah

Bagi yang sudah “ngaji”, yang notabenenya insyaAlloh sudah mempelajari ilmu tauhid dan aqidah, mengetahui sunnah, mengetahui berbagai macam maksiat, tidak mungkin syaitan mengoda dengan cara mengajaknya untuk berbuat syirik, melakukan bid’ah, melakukan maksiat akan tetapi syaitan berusaha merusak Akhlaknya. Syaitan berusaha menanamkan rasa dengki sesama, hasad, sombong, angkuh dan berbagai akhlak jelak lainnya.

Syaitan menempuh segala cara untuk menyesatkan manusia, tokoh utama syaitan yaitu Iblis berikrar untuk hal tersebut setelah Alloh azza wa jalla menghukumnya dan mengeluarkannya dari surga, maka iblis menjawab:
“Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan(menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al-A’raf: 16-17)

Sudah lama “ngaji” tetapi kok susah sekali memperbaiki Akhlak?

Memang memperbaiki Akhlak adalah hal yang tidak mudah dan butuh “mujahadah” perjuangan yang kuat. Selevel para ulama saja membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memperbaiki akhlak.
Berkata Abdullah bin Mubarak rahimahullahu : “Saya mempelajari adab selama 30 tahun dan saya mempelajari ilmu (agama) selama 20 tahun, dan ada-lah mereka (para ulama salaf) memulai pelajaran mereka dengan mempelajari adab terlebih dahulu kemudian baru ilmu”. [Ghayatun-Nihayah fi Thobaqotil Qurro I/446, cetakan pertama, Maktabah Ibnu Taimiyyah, Maktabah Syamilah]

Dan kita tetap terus menuntut ilmu untuk memperbaiki akhlak kita karena ilmu agama yang shohih tidak akan masuk dan menetap dalam seseorang yang mempunyai jiwa yang buruk.
Imam Al Ghazali rahimahullahu berkata,“Kami dahulu menuntut ilmu bukan karena Allah ta’ala , akan tetapi ilmu enggan kecuali hanya karena Allah ta’ala.”
Jadi hanya ada kemungkinan ilmu agama tidak akan menetap pada kita ataupun ilmu agama itu akan memperbaiki kita. Jika kita terus menerus menuntut ilmu agama maka insyaAlloh ilmu tersebut akan memperbaiki akhlak kita dan pribadi kita.

MARI KITA PERBAIKI AKHLAK KITA!!!

Jangan lupa berdoa agar akhlak kita menjadi baik

Dari Ali bin Abi Thalib Rodhiallahu ‘anhu bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam salah satu do’anya beliau mengucapkan:
,أَللَّهُمَّ اهْدِنِيْ لِأَحْسَنِ الأَخْلَاقِ, فَإِنَّهُ لَا يَهْدِيْ لِأَحْسَنِهَا إِلَّاأَنْتَ
وَاصْرِفْ عَنِّيْ سَيِّئَهَالَايَصْرِفُ عَنِّيْ سَيِّئَهَاإِلَّاأَنْتَ
“Ya Alloh, tunjukkanlah aku pada akhlak yang paling baik, karena tidak ada yang bisa menunjukkannya selain Engkau. Ya Alloh, jauhkanlah aku dari akhlak yang tidak baik, karena tidak ada yang mampu menjauhkannya dariku selain Engkau.” (HR. Muslim 771, Abu Dawud 760, Tirmidzi 3419)

Dan doa dijauhkan dari akhlak yang buruk,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الأَخْلاَقِ وَالأَعْمَالِ وَالأَهْوَاءِ
“Ya Alloh, aku berlindung kepadamu dari akhlak, amal dan hawa nafsu yang mungkar” (HR. Tirmidzi no. 3591, dishohihkan oleh Al-Albani dalam Dzolalul Jannah: 13)
Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walamdulillahi robbil ‘alamin.

Wallahua’lam bis showab
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…

Disadur dan diubah dari : Artikel KMMF UGM